TENTANG PERJALANAN HIDUP



TENTANG PERJALANAN HIDUP

Aku ini bukan siapa-siapa, bukan orang yang ahli ilmu, bukan orang yang paham agama secara menyeluruh dan bukan juga wanita sholihah seperti yang diidamkan para kaum adam, sebagaimana sayiidina aisyah atau khadijah. Tapi, bukan berarti aku tidak berhak berbagi pengalaman atau sekedar sharing.

Setiap orang pasti punya pengalaman hidup masing-masing. Baik itu penuh dengan kebahagian, terlahir kaya sejak lahir atau bahkan berlimpah kekayaan dan biasa hidup mewah sejak bayi. Atau sebaliknya, hidup pas-pasan, biasa berjuang sejak kecil, sudah biasa makan tanpa lauk atau makan biasa makan sehari satu kali. Bahkan, telur satu dibagi untuk 7 bersaudara? ahh… hidup memang bervariasi!

Banyak hal yang sejatinya orang lain tidak banyak tau tentang kehidupanku, mungkin mereka hanya melihat ya aku seperti mereka hidup sederhana dan berkecukupan. Aku sendiri juga bukan orang yang suka menceritakan apapun kepada orang lain, bahkan teman dekatpun tidak tau seperti apa sebenarnya hidupku.

Mereka juga tidak pernah bertanya tentang hal ini dan akupun tidak pernah cerita. Akan tetapi, saat ini aku ingin mengenang semua yang kulalui ini dengan tulisan ini, siapa tau bisa menambah orang yang membacanya lebih bersyukur kepada Allah.

Oke, aku mulai bercerita dari apa yang ku ingat, semoga kamu yang sedang membaca bisa belajar banyak hal tentang pengalaman hidupku ini. Saat SD, ya layaknya anak seumuranku, aku main, belajar dan sekolah. Hanya saja yang berbeda, uang jajanku dengan teman-teman seumuranku, mereka dulu pasti ada yang seribu, lima ribu bahkan sampai sepuluh ribu. Sedangkan aku, hanya 300 rupiah atau 500 dan seringnya sih, tidak bawa uang jajan karena orangtuaku tidak selalu ada uang setiap harinya. Namanya anak-anak, pasti batin ” kok mereka enak ya bisa jajan, sedangkan aku tidak”. Itu dulu yang kuingat, sedih sih, tapi yasudahlah sekarang aku sudah melaluinya. Ada cerita lagi ketika SD yang sangat membekas, ahh… jika mengingat itu perih rasannya, iya saking orangtuaku nggak punya uang, teman seangkatanku jalan-jalan atau bahasanya piknik, aku tidak bisa ikut karena lagi-lagi soal biaya. Menulis ini saja, mataku berkaca-kaca betapa beratnya  hidup orangtuaku.

Memasuki SMP, iya aku dulu sempat ingin SMP negeri karena nilaiku masuk. Tapi, kata bapakku, aku akan dimasukkan pesantren. Image dulu, masuk pesantren itu buat orang yang tidak berduit. Ya saat itu aku ikut aja apa kata bapak, belum paham banyak hal saat itu. Tapi, yang membekas yak karena orangtuaku tidak ada uang jadi aku dimasukkan pesantren. Cerita dipesantren yang paling membekas adalah, aku tidak boleh ambil raport atau melihat nilai raport karena belum bayar SPP. Iya lagi-lagi soal biaya, hidup dipesantren aku juga sangat jarang ditengok, bahkan dulu merasa dibuang disana rasanya. Melihat teman-temanku, mereka ditengok tiap bulan, diberi uang saku dan dibawakan banyak stock makanan. Sedangkan aku, tidak bahkan sering menahan lapar waktu siang hari karena tidak bisa jajan. Iya, jadi dulu zamanku dipesantren makan dua kali sehari jjadi, jika siang beli sendiri jika ada uang. Jika tidak ya sudah nahan laper, atau kadang dikasih temen. Sedih ya, mengingat semua itu nyesek rasanya.

Tapi mulai masuk SMA/Aliyah di pesantren itu, entah karena aku bisa atau kebetulan aku mulai piket di batas gerbang pesantren. Jadi ceritanya, dulu itu kalau santri nggak pernah aneh-aneh dipiketkan diluar atau di batas-batas gerbang. Nah dulu, karena aku dapat jatah piket di TK dalam jadi, setiap habis piket aku dapat makan dan snack sisa-sisa guru yang tidak dimakan. Itu memorial banget, seneng dapat makan begitu saja hhe Karena kadang nunggu makan sore pesantren itu bisa habis magrb atau habis insya” dan kadang kalau telat antri tidak dapat lauk. Jadi dapat makan atau jajan lebih awal itu rasanya bersyukur sekali.

Oke, lanjut ya, memasuki kelas 2 Aliyah aku ditugaskan ngajar SD diluar pondok, jadi dipengangin motor tua gitu, tapi masih bisa dipakai meski pagi-pagi aku harus olahraga dulu “genjot” motor sampai berkeringat karena maklum motor tua. Hhe itu memorial juga, karena tiap pagi pasti temen-temen banyak yang nitip jajan pasar gitu dan dulu sempet ada temen nyeletuk “ kamu enak ya, tiap hari keluar pesantren” ingat sekali aku, meski ya dalam hati iya enak meski uang pas-pasan. Nah, semenjak ngajar di SD ini aku dapat uang dari SD dan ada anak minta di les ngaji gitu jadi aku tiap bulan dapat uang tambahan lagi. Dulu aku sudah izin boleh nggak nerima les gitu sama Pembina, dan dibolehin jadi itu rezeki banget disaat aku nggak tentu dapat uang dari orang tua bisa dapat uang dari ngajar SD dan les.

Panjang ya ceritanya, udah bosen ya bacanya?  Tapi masih panjang nih ceritanya, karena aku ingin merangkum semuannya. Boleh skip kok kalau udah bosen hhe next ya, ini juga kejadian memorial banget yang akan ku abadikan disini. Jadi, waktu semester 2 kelas 2 Aliyah, aku kena usus buntu dan harus di operasi. Dulu zaman itu, aku jadi kesehatan dalam struktur organisasi pesantren. Eh, nggak tau juga aku mengeluh sakit perut, terus berkelanjutan gitu. Dan dulu itu yang aku ingat, aku sebagai kesehatan di pesantren aku kerjasama dengan kayak semacam pelayan dompet dhuafa tapi ada dokternya gitu, nah singkat cerita, aku periksa disana dan hasilnya memang aku kena usus buntu. Waktu itu, aku diizinkan pulang sama ibu pengasuh dan dijemput sama bapak. Bapak jemput aku pakai becak gayuh saat itu, duhh…menangis aku kalau ingat cerita ini. Kalian tau kan monument jogja kembali (monjali), nah di jalan palagan itu tempat pelayan dompet dhuafa itu, bapak jemput aku pakai becak dari situ sampai bambang lipuro kalian bisa bayangin kan betapa jauhnya jarak yang harus ditempuh, ku lihat air keringat mengucur terus diwajah hingga kaos yang dipakai basah kuyup. Sedih banget rasanya…aku menulis ini dari tadi berlinang air mata, betapa berat dan kerasnya hidup orangtuaku. Hixs..hixs…

Aku sadar betul, saat itu temen-temen pesantren sudah banyaklah, yang orang tua mereka punya kendaraan motor. Kalau mobil sih, seingatku belum ada yang punya temen seangkatan, eh ada deng satu temen anak ustd dan punya percetakan majalah gitu. Oke lanjut, kecerita tadi, singkat cerita aku di operasi di PKU Bantul. Dengan pertolongan Allah, aku dioperasi lebih cepat karena ternyata dokter yang di dompet dhuafa itu tetanggaku di rumah, dan ada kenalan dokter di RS itu jadilah aku dapat jadwal cepat dan biaya sisanya dibayarin dokter itu. Lagi-lagi jika pertolongan Allah itu datang memang tidak disangka-sangka. Masya ALLAH!

Oke kita percepat aja ya, gimana aku yang anak seorang pembecak, yang uang aja nggak tentu dapat dalam sehari bisa masuk kuliah dan sekarang alhmdulillah sudah lulus. Cerita dibalik ini banyak sekali, dan pernah diremehin tetangga “ apa mau kuliah,? Buat makan aja susah?”. Iya semua akan membekas dalam hatiku. Masuk kuliah, yang kulalui juga tidak asal masuk dan langsung kuliah. Tidak! Tapi disaat awal masuk aja aku udah di uji, iya lagi-lagi karena aku belum bayar uang masuk awal sebesar 3 juta sekian saat itu, jadi aku belum dapat KTM (kartu tanda mahasiswa). Iya karena bapak lewat beasiswa LSM jadi aku dapat KTM terakhir setelah uang dari sana cair. Sebenarynya ini nggak begitu berat, hanya saja no absenku selalu tidak ada di daftar jadi ya malu gitulah.

Oh iya, jadi teman-teman, sebelum aku di terima di kampus, aku daftar kerja jadi Pembina pesantren gitu dan alhmdulillah aku lolos. Jadi mulai ospek aku udah tinggal di pesantren itu, iya jadi aku nggak mikirin lagi uang kosan dan uang  hidup hhe karena dapat makan juga disana dan dapat gaji yang insya allah cukuplah. Dari sini, sih alhmdulillah aku sudah tidak ada drama kesusahan dalam ekonomi. Karena berjalannya waktu saat kuliah, aku bisa ngajuin besiswa tambahan dari kampus, waktu itu pernah dapat beasiswa tak diduga dari Bank BRI. Ini juga memorial banget, jadi saat itu ada beasiswa dikpora nah aku ngajuin tuh ke rektorat, tapi ternyata sudah deadlinenya. Nah pas  ngobrol sama ibu bagian rektorat itu, aku dikasih tau ini ada mbak beasiswa dari BRI tapi masih nunggu kabar dari seorang mahasiswa gitu, singkat cerita aku dikasih kontak ibu itu kata beliau “nanti kalau nggak da kabar, aku kasih kabar sampean buat lengkapin syaratnya ya”. “ wah,, siap bu! “ akupun balek ke kampus karena ada jam kuliah, tepat jam 4 ibu itu miscol dan sms kasih kabar. Hhe namanya rezeki ya akhirnya bulan depannya beasiswa itu cair dengan syarat yang sudah ku penuhi.

Ya begitulah rezeki teman-teman, terkadang kita berfikir bahwa seakan tidak mungkin tapi setelah dijalani tidak sesulit yang kita bayangkan.

Btw, meski bapakku hanya seorang pembecak, dan ibukku IRT mereka tidak pernah mengajariku makan yang tidak hahal, atau minjam duit tapi bukan kepepet atau istilahnya udah mau mati. Aku si sampai saat ini yakin, apa yang kuperoleh beserta keberkahan-keberkahan yang ada, berkat doa dan ajaran mereka. “Asal kita mau usaha insya allah ada jalan “. Itulah pesan alm bapakkku.

Aku sangat mengaggumi sosok beliau, pemikirannya selalu luas, berwibawa dan jarang sekali marah jika bukan aku yang keterllaluan. Beliau, juga sosok yang bertanggung jawab. Love you pak! Aku rindu.

 

 

Jakarta, 14 juni 2020

Mau sharing boleh?

Umikultsum25@gmail.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SAAT KITA BERADA PADA TITIK TERENDAH

KERING TEMPE ENAK

TENTANG JODOH, JANGAN BAPER BERLEBIHAN!