TENTANG JODOH, JANGAN BAPER BERLEBIHAN! PART 2!
TENTANG
JODOH, JANGAN BAPER BERLEBIHAN! PART 2!
Hai
teman-teman balek lagi kita di part 2 ini, gimana udah tambah siap menikah? Atau
tambah galau nih gara-gara baca tulisanku di part 1 kemaren? Hemm…janganlah
galau-galau lagi. Aku sekedar share aja si tentang apa yang kualami. Kalau kalian
Tanya “ mbaknya nyesel menikah?” jawabnku nggak juga si, Cuma kayak
lebih sayang sama waktu yang telah lalu. Masa di mana aku tidak belajar lebih
banyak, masa di mana aku tidak lebih berfikir dewasa dan hanya menikmati masa
muda tanpa diimbangi persiapan dimasa tua.
Ahh..
kenapa ya kita tuh selalu mengandai-andai? Baiklah, mari kita ambil hikmah lagi
aja ya. Atau balek lagi ke minset sebelum menikah buat kaum laki-laki yang
mungkin mengalami hal sama, ingin menikah tapi belum ketemu jodohnya, atau
sudah ada pasangan tapi belum siap mental untuk berkeluarga? “kira-kira
ketika nanti jadi kepala keluarga bisa nggak ya sabar ngadepin isteri? Bisa nggak
ya lebih legowo atau menahan emosi karena harus selalu berhadapan dengan dua
kepala?” hal yang kadang terlupakan untuk dipikirkan, karena sudah terlanjur
cinta. Atau menikah karena ingin menunjukkan saja sama teman-teman bahwa dia
tidak jomblo lagi, padahal sejatinya keluarga itulah ujian terberat yang akan
dia lalui. Tidak mudah loh menjadi kepala keluarga itu, belum lagi ada hal
tertentu yang harus mengalah pada isteri atau lebih mendengarkan apa kata ibu
sendiri dari isteri sendiri? Sungguh, terkadang pilihan yang sulit. Itulah kenyataan
hidup yang pasti akan dijalani.
Yang
jelas teman-teman, sebuah pilihan itu tidak ada yang mudah. Termasuk aku
pribadi, dalam bayanganku. Setelah menikah aku bisa melanjutkan S2 dengan mudah
dan cepat seperti waktu kuliah S1. Tapi lagi-lagi banyak sekali ujian yang
harus kujalani, mulai disaat aku kerepotan mengurus anak pertama yang aku
sendiri tidak mungkin menitipkan bayi untuk pergi kuliah. Dalam benak selalu bertanya
“masak iya aku titipkan bayiku pada orang lain, sedangkan aku kuliah setiap
hari?” rasanya hal ini tidak adil untuk dia. Oke, setelah itu aku merenung
setiap hari, sambil menangis! Ya setelah diskusi dengan suami, tetap saja
jawaban atau alternatif terbaik lagi-lagi belum ada dan aku harus mengalah
hingga nunggu si dedek 2 tahun ini, “ ya lumayan, setidaknya dia sudah cukup
mandiri, tanpa ASI”. Apakah berhasil?
Kenyataan
yang terjadi “belum tercapai” ditahun anak pertamaku menginjak usia 2 tahun. Aku
hamil anak ke 2. “Rasanyanya seperti jatoh ketiban durian runtuh!”.jujur
berat inipun kujalani. Diawal tahu tentang kehamilaninipun, berat sekali hati
untuk menerima, hal yang samapun dirasakan suami. Oke, setelah bermelow-melow
ria akupun bangkit dan menyemangati diri “bahwa aku saat ini ada bukan hanya
untuk diriku, melainkan ada anak, suami dan anak lagi yang kuperhatikan”. Dari
situ egoku untuk terus menyesali berlarutpun menjadi lebih luwes dan legowo. “
yasudah kita jalani dulu, dengan harapan semoga ini yang terbaik.”
Dari ceritaku ini, kuharap teman-teman lebih matang lagi ketika sudah siap menikah dan mencari jodoh. Jodoh itu sebenarnya, akan datang sendiri jika waktunya suda pas, ya tentu kita imbangi dengan usaha ya teman-teman. Bisa lihat juga di youtube aku tentang jodoh ya teman-teman: https://youtu.be/UTUAsmRxY9U
Aku
sering mengatakan sama teman-temanku “ bahwa jika saat ini kamu sedang
kuliah atau sedang berbisnis fokuslah dulu, targetin kapan kuliah kelar atau
kapan bisnismu itu sukses atau bahkan kapan karirmu itu bagus. Setelah itu jika
sudah siap, carilah pasangan hidup yang cocok denganmu”. Bukan mencampur adukkan
satu hal dengan hal lain,karena pasti akan buyar.
Oke
teman-teman untuk sesi ini aku akhiri ya teman-teman, banyak hal yang terkadang
kita tidak tahu dan terjadi begitu saja. Tetap semangat untuk kalian semua. Tetap
berfikir positif dan terus melangkah maju, ojo kasih kendor!.
Tanya-tanya
boleh email:
Komentar
Posting Komentar